SHE
IS MY REALLY BEST FRIEND
Masa SMA
adalah masa yang paling indah,itulah kata orang kebanyakan. Dan kini aku sedang
memulai masa indah itu. Mendapatkan kelas yang baru membuat ku harus mencari
teman yang baru,dari sekian banyak siswi perempuan yang ada,mataku tertuju pada
sosok perempuan tinggi berkacamata,ya dia adalah Aini orang yang sangat ingin
ku jadikan teman,entah kenapa aku sangat ingin berkenalan dengannya. Karena
menurutku dari wajahnya,ia adalah sosok wanita yang ramah,sederhana dan tidak memandang adanya perbedaan kasta
ekonomi.
Aku pun menghampiri Aini yang duduk di barisan
depan,
“Kamu Aini,kan?” ucapku
memulai pembicaraan
“Iya.”
“Aku Nida. Eh aku juga minus,kamu minus
berapa?”
Dia
tak menjawab pertanyaanku,mungkin karena kalimatku yang terkesan so akrab
membuatnya agak menjaga jarak padaku.
Aku
terus berusaha mendekati Aini,dan usahaku tidak sia-sia. Aku bisa bertambah
dekat dengannya, bangku ku dengannya sangatlah dekat. Tak aneh apabila aku
sering bekerja sama dengannya apabila ada tugas yang aku kurang mengerti,aku
pun dekat dengan teman sebangkunya,yang bernama Fitri. Mereka adalah rekan yang
sangat bisa kuajak berbagi cerita,termasuk mengenai hal yang pribadi seperti
masalah cinta ataupun keluarga. Kami pun bersepakat untuk gabung ke dalam
ekstrakurikuler yang sama,yakni ekstrakurikuler Pelajar Masjid. Dari sanalah
persahabatan kami kian dekat.
“Aini,Fitri ,ayo kumpul. Malu ih,kita
kabur terus.”
“Ayo.” Seru
Fitri
”Males eum. Bosen kumpul nya juga.” Ia
pun melangkah pergi,akan tetapi aku cegat tangannya.
“Boring,nid.”
“Ih,kalau kita gak kumpul,kita gak akan
bisa liat kakak ganteng tau.”
“Kamu bisa aja bujuknya,ayo.”
Akhirnya,Aini
pun ikut kumpul. Canda tawa terus mengiringi langkah kami bertiga. Kami selalu
bersama saat itu,bahkab bangku yang hanya cukup untuk dua orang saja kami bagi
agar bisadi duduki oleh tiga orang.
***
Menginjak
kelas XI,Aku dan Fitri harus berpisah dengan Aini. Karena Aku dan Fitri
terdaftar sebagai siswa di kelas XI IPA 1,sedangkan Aini di kelas XI IPA 3.
Sungguh,sedih rasanya berpisah dengan Aini,kusangka hanya aku dan Fitri lah
yang merasakan kesedihan karena berpisah dengannya,ternyata Aini juga merasakan
hal yang sama. Ia merasa kesepian di kelas XI IPA 3,awalnya memang cukup sulit
baginya untuk menyesuaikan diri di kelas XI IPA 3,tapi seiring berjalannya
waktu,ia dapat merasakan kenyamanan di kelas XI IPA 3,walaupun kenyamanan yang
ia rasakan tak senyaman saat ia sekelas dengan aku dan Fitri. Tetapi walaupun
begitu komunikasi kami tetap terjalin,meski tak sesering saat kelas X,kami pun
hanya bertemu apabila kami melaksanakan sholat,saat istirahat,dan juga saat
kumpul sesama Pelajar Masjid.
***
Waktu
demi waktu berlalu,tak terasa penghujung perjalanan SMA kami akhirnya tiba.
Kelas kami pun diubah kembali,kini Aku yang dipisahkan dari mereka berdua. Aku
menjadi siswa XII IPA 2,sedangkan Fitri dan Aini di kelas XII IPA 1. Walaupun
berbeda kelas,terkadang setiap istirahat kami selalu berkumpul bersama dengan
anggota Pelajar Masjid yang lain, baik itu di kelas XII IPA 1 ataupun di kelas
XII IPA 2. Dan juga apabila kelas kami
sedang tidak ada guru pada saat jam pelajaran ke 2,kami selalu menyempatkan
diri untuk sholat dhuha di masjid,dengan hal itu hati kami menjadi tenang,karena
menjadi kelas XII adalah masa yang sangat berat,dimana pada saat itu kita harus
memilih jalan mana yang harus kita ambil setelah kami lulus. Aku,Fitri dan Aini
mempunyai tujuan yang sama,yakni kami sama-sama ingin melanjutkan kuliah di
perguruan tinggi negeri,apapun caranya akan kami tempuh untuk bisa menjadi
mahasiswi. Hanya program studi yang kami ambil saja yang berbeda.
”Pokoknya Aini pengen tetep jadi guru
biologi.”
“Ya udah,aku guru bahasa Inggris di SMA
kita”
“Awas nid,jangan sampai flashback
kamu,bukannya ngajar malah curhat.” Canda Aini
“Iya ya,ntar mzlah curhat sepanjang
KBM.hahahaha” Balas Fitri yang ikut membully-ku
“Ya gak sampai gitu juga kali,ya kali
aku nyeritain si dia di depan siswa,aib itu.”
“Kali aja,Nid. Fitri.kamu mau jadi guru
apa ntar?.”
“Guru PAI,ni. Hihi.insyaallah.”
“nge dalil dia ntar. Asupannya dalil
Qur’an setiap hari.” Ucapku asal
“haha,bener bener. Kenyang sama dalil.” Balas
Aini yang kini giliran ikut membully Fitri,dan Fitri pun hanya bisa pasrah akan
candaan kedua sahabatnya itu.
Kami
pun lulus bersama,dengan nilai yang tidak mengecewakan,kami bangga akan hasil
sendiri,setelah sebelumnya kami belajar bersama dengan Ina dan Fani.
Selanjutnya kami mencoba berbagai jalur
untuk masuk PTN,mulai dari jalur rapot hingga jalur tertulis. Kami daftar
bersama-sama,terkadang aku yang terlebih dahulu mendaftar,sedangkan Fitri dan
Aini daftar belakangan,disaat itulah aku menjadi pusat pertanyaan mereka
berdua. Hari yang kami nanti pun tibaAku dan Fitri lolos di jalur undangan dan
diterima sebagai mahasiswi di salah satu perguruan tinggi negeri.terlihat gurat
kekecewaan di status facebook yang Aini tulis,ku tahu ia sedikit kecewa dengan
hasil tersebut,meski begitu ia tetap semangat mengejar kami berdua agar bisa
menjadi mahasiswi di perguruan tinggi negeri yang Aku dan Fitri pilih.
“Cieee selamat ya Nida sama
Fitri,sahabatkuu. Tunggu Aini nyusul,nttar kita kuliah bareng di PTN yang
sama.”
Sedih
memang melihat status Aini tersebut,sebagai sahabat yang baik,Aku dan Fitri pun
menyemangatinya. Tetapi sayangnya,saat Aini daftar ujian tulis tersebut,Fitri
tidak mengambil kesempatannya itu,dikarenakan kurang ada persetujuan dari
ayahnya. Dari sanalah,aku sangat berharap sangat besar Aini dapat lolos,karena
aku ingin mempunyai teman dari satu SMA yang sama. Dan perjuangan yang
dilakukan Aini pun tak sia-sia,ia lolos di jalur ujian tulis. Aku yang mencari
tahu tentang kelolosan Aini melalui sebuah Koran yang dimiliki oleh temanku di
facebook,kebahagiaan sungguh terukir jelas kini. Awalnya ia tak puas dengan
hasilnya,karena prodi dimana ia lolos adalah pilihan kedua,tapi dengan
pertimbangan yang cukup matang,ia akhirnya menerima hasil tersebut. Dan ia pun
menyelesaikan segala persyaratan kelulusannya,karena aku sangat bahagia atas
kelulusannya,aku bersedia untuk mengantarnya kemana saja ia mau. Mulai dari
sanalah,aku semakin dekat dengan Aini,kami merencanakan segala kegiatan yang
akan kami lakukan setelah resmi menjadi mahasiswi. Menjelang masa orientasi,Aku
dan Aini menyempatkan diri untuk menghibur diri dengan berkaraoke ria di salah
satu tempat perbelanjaan terdekat.
“Kita mau nyanyi apa ni?”
“Apa ya? Dangdut aja ya nid.”
“Gimana kalau lagu Siti Nurhaliza yang
Nirmala?”
“Nah itu bagus,itu aja nid.”
“Rekam pake hp kamu ni,ntar aku upload
ke youtube.”
“siap,siap.”
“Ni,kita foto-foto dulu yuk sama
boneka,jangan beli,kita foto aja. mumpung sepi.”
“Hayu,nid.”
“Sama katel juga yuk,supaya
kekinian.haha”
“Boleh boleh,koleksi lah.
Kenangan.hahaha.”
“Ntar upload ya sama kamu,ni. Kegilaan
sebelum ospek gitu.”
“Siap,nid.”
“Ni,jajan yuk. Yang 500an aja,hemat.
Uang aku sisanya tinggal buat ongkos doang.”
“Sama Aini juga,nid. Ya udah,beli yang
murah aja.”
“Sama kamu yang bayarnya ya.hehe.”
“Iya.”
“Ni,ongkos kan 3.000 ya,aku cuma punya
2.400 masa.”
“Hahaha Aini juga sama ih.”
“Gimana kalau kita jalan dulu? Hemat
ongkos,hehe.”
“Nah bisa,ayo. Aku tau jalannya,tapi
nid,Aini ntar nitip ongkosnya ya,kan kamu yang turun terakhir.hehe.” Aini
pun cengengesan padaku,berharap aku menyetujui permohonannya.
“Selalu. Iya lah iya.”
Aku
pun menikmati sepanjang hari itu bersama Aini,kami pun pulang setelah adzan
dzuhur berkumandang. Begitu bahagia rasanya,seakan beban yang kini menumpuk pun
terlepas dari tempatnya.
Waktu
orientasi pun tiba,ternyata alumni dari SMA kami cukup banyak yang terdaftar
menjadi mahasiswa di PTN ini. Ada aku,Aini,Ina,Elsi dan Hana. Kami pun membuat
grup agar silaturahmi tetap terjalin meski kami semua berbeda program
studi,kami menyusun beberapa rencana seperti mempromosikan PTN kami ke SMA kami
nantinya,dan juga kami merencanakan untuk berfoto bersama saat kami mempunyai
jas almamater.
“Nanti Sriguci kalau udah punya jas
almamater foto bareng ya?” Saranku dengan menampilkan wajah semanis mungkin
agar mereka menyetujui saranku.
“Ayo. Eh,apa bener ntar Januari kita ke
SMA buat promosiin universitas?” Balas Aini seraya bertanya
“Iya katanya. Nanti tanya aja ke Ibu
Siti,nid.” Titah Hana padaku
“Sama aku? Aishhh,iya iya.”
***
Masa-masa
sibuk kami lalui,tapi di sela-sela kesibukanku dengan Aini,aku selalu cerita
mengenai masalah ku padanya,begitu pula sebaliknya. Tak kenal waktu,kami selalu
merancang kenangan indah bersama baik itu pada saat menjadi mahasiswa ataupun
setelah kami lulus nantinya. Suatu hari Aku,Aini dan Fitri berkumpul bersama
dirumahku untuk sekedar berbagi pengalaman kuliah. Kami seperti sudah lama tak
bertemu,karena kami meluapkan segala kebahagiaan kami yang bisa menjadi
mahasiswi pada saat itu. Hanya yang
berbeda dari kami ialah Fitri yang akhirnya bisa tetap berkuliah di PTS sebar
bekerja,sungguh ia merupakan sosok yang paling tangguh diantara kami bertiga.
***
Tugas-tugas
terus berdatangan,berbagai presentasi harus kami lalui,ulangan tengah semester
pun sudah ada di depan mata. Aku dengan semangat menghafal segala materi yang
telah diberikan dosen,aku berusaha sebisa mungkin agar tidak di remedial. Dan
akhirnya usaha yang kulakukan tak sia-sia. Setelah itu,masa-masa tenang pun
tiba,aku dan Aini berencana untuk menonton film di bioskop bersama.
“Aini,ke
bioskop yuk.”
“Ayo,sekalian reuni sama anak Pelajar
Masjid kan?”
“Iya,ajak mereka sama kamu.”
“Takut gak dijawab sama merekanya,nid.”
“Coba dulu kali. Eh kapan emang kita mau
ke bioskop nya?”
“Next week yaa.”
Sungguh
tak sabar rasanya aku menunggu waktu demi waktu menjelang hari minggu itu.
Setelahnya.Aku dan Aini pulang ke rumah bersama,sepanjang jalan aku curhat
kepadanya,begitu pun ia. Saat akan tiba
di tempat yang kami tuju,Aini baru saja tertidur,tak tega aku membangunkannya.
Tetapi mau bagaimana lagi,daripada kami salah jalan karena kebablasan bukan?
“Aini,bangun. Udah sampe.”
“Oh udah sampe,nid?”
“Iya,ayo. Eh,makasih ya udah ngasih aku
tumpangan nginep.”
“Sama-sama,nid.”
Keesokan
harinya aku berulang tahun yang ke 19,ucapan-ucapan dari sahabat,rekan dan
kawan berdatangan padaku. Bahagia hatiku,karena di ulang tahun yang ke 19
ini,segala permohonan ku dapat tercapai seperti menjadi mahasiswi di salah satu
PTN. Alhamdulillah ~
Hingga
menit-menit terakhir menuju akhir dari tanggal 12 November,Aku sangat menunggu
ucapan Aini,karena tidak biasanya ia terlambat mengucapkan ulang tahun
padaku,aku juga heran sendiri,mengapa aku sangat menunggu ucapan darinya? Tapi
akhirnya keesokan hari,Aini mengucapkan selamat atas ulang tahunku lewat pesan
facebook,ia tidak mengucapkannya kemarin karena ia sedang menghemat
baterai,alasan yang sungguh aneh. Untungnya dia sahabatku,aku terima saja
alasannya,karena aku sangat menghargainya. Lebih baik terlambat mengucapkan
daripada tidak mengucapkan sama sekali bukan?
“Selamat ulang tahun Nida,Maaf baru
ngucapin,kemarin lagi ngehemat baterai. Semoga panjang umur dan segala yang
diinginkan dapat tercapai.:D Aamiin.”
“Aamiin,gak apa-apa Ni,Makasih yaa:D”
Keesokan
harinya,banjir terjadi di Bandung,sungguh ini sangat menghambat kegiatanku.
Begitu pula dengan ayahku yang akan berangkat kerja,ia pun kebingungan mencari
jalan. Seolah berpacu dengan waktu,ayahku mencari jalan alternatif agar kami
berdua bisa sampai di tujuan masing-masing. Akhirnya setelah 1,5 jam di
perjalanan,aku dapat sampai di tempat kuliah. Diantara empat mahasiswa yang
beralamat di Cicalengka,hanya aku saja yang bisa sampai di tempat kuliah. Aku
sangat bersemangat menjalani kegiatan kuliah tersebut,terlebih lagi saat mata
kuliah bahasa Indonesia,karena pada saat itu,kelompokku lah yang berpresentasi.
Waktu
pulang pun tiba,aku sungguh menunggu saat-saat ini. Tak sabar bagiku untuk
sampai ke rumah,aku pun menaiki kobutri,sebari berharap agar tidak terjadi
kemacetan lagi. Kurasakan handphone ku bergetar sedari tadi,aku berfikir
mungkin itu hanyalah peringatan handphone ku yang sedang dalam keadaan low
battery. Tetapi ternyata dugaanku salah,temanku Rini meneleponku. Terdengar
samar yang kudengar,karena kukira mungkin karena sinyal yang kurang memadai.
Aku pun menutup telepon dari Rini,karena pasti jika dia perlu tak lama ia akan
meneleponku kembali. Saat aku menutup telepon dari Rini,kulihat beberapa sms
telah masuk ke handphone ku,ku baca sms tersebut satu per satu.
Kaget,Shock,Sedih,Sakit Hati kurasakan saat aku membaca sms dari Isti.
Nida,Aini meninggal. Kecelakaan tadi
subuh,pas mau berangkat ke kampus.
Air mata pun tiba-tiba mengucur deras di wajahku,tak
ku perhatikan ekspresi dari penumpang yang lain,yang pasti aku tak
mempedulikannya. Dengan hati yang terus bergetar,aku berusaha sekuat mungkin
agar aku bisa cepat sampai di rumah Aini. Hatiku berdetak tak menentu,saat tiba
mendekati rumahnya,aku berlari sekuat tenaga. Berharap agar berita tersebut
hanyalah mimpi. Tapi harapanku pupus sudah,saat Dian dan Isti baru saja keluar
dari rumah Aini,aku pun langsung menangis dan memeluk Dian yang dibonceng oleh
Isti.
“Dian,ini bohong kan? Aini kan mau ke
bioskop sama aku minggu depan. Dia juga udah janji mau jadi guru MI di
Bandung,Bulan Januari juga kita sama-sama mau ke SMA. Aini masih ada kan?”
“Nida,yang sabar ya.”
Ucapan Dian tersebut tak berefek padaku,air mata
terus bercecer di pelupuk wajahku.
“Ya Allah,sampai gini banget kamu,Nid.
Aku tahu kok kamu deket banget sama Aini. Sabar Nid,sabar.”
Setelah
kejadian tersebut,yang aku lakukan hanya bisa melamun dan membayangkan
masa-masa indahku bersama Aini,dan memikirkan pula rencana-rencana yang telah
kami rancang yang sekarang hanya bisa dijadikan sebagai kenangan. Disana aku
merasa sandaranku hilang,roboh. Tak kuasa aku menopang kesedihanku,tak bisa aku
menahan segala kesedihanku yang telah kuusahakan sebisa mungkin untuk tidak runtuh. Tapi
hasilnya nihil,saat bunyi sirine ambulans tiba,dan jenazah Aini di keluarkan.
Betapa sakitnya hatiku,melihatnya. Aku menyesal belum bisa mewujudkan segala
keinginannya,termasuk untuk bisa berkumpul dengan Alumni pelajar Masjid yang
lain. Sesak saat ia ditutupi oleh kain putih tersebut,ku harap itu adalah
mimpi,tapi akhirnya kusadari ini kenyataan,dan aku pun harus menerimanya.
Hari-hari
ku lewati tanpa Aini,tiada lagi tempat bermuaranya ceritaku. Tiada lagi yang
bisa kuajak berangan lepas merangkai masa depan. Hampa rasanya,tetapi aku sadar
bahwasanya Aini pasti tidak mau melihat sahabat-sahabatnya terpuruk dalam
kesedihan. Aku pun berusaha sekuat mungkin untuk tegar menjalani kehidupanku
tanpanya,Lantunan do’a pun aku sampaikan untuknya di sela-sela waktuku. Ku
yakin ia sekarang sudah lebih bahagia di tempat yang baru,karena kufikir bahwa
Sang Pencipta lebih menyayangi Aini,oleh karena itu ia diambil terlebih dahulu.
Beberapa
minggu setelah kepergiannya,waktu pembagian jas almamater pun tiba. Saat ku
mendapatkan jas tersebut,sungguh aku teringat kepada Aini yang sangat ingin
berfoto ria menggunakan jas. Ku yakin dari atas sana,Aini melihat ku dan yang
lain.
***
Angin terus berhembus di langit kota Bandung,Awan gelap
turut hadir pada saat itu, pertanda hujan akan segera turun. Tapi kuharap agar
hujan jangan dulu turun sebelum aku tiba di rumah. Dan akhirnya do’a ku
terijabah, Disana aku menunggu Ina yang sedang menghampiri dosennya. Sebari
menunggunya,aku pun menatap langit biru nan indah itu,dan menikmati angin yang
terus berhembus,sesaat aku pun tersenyum menatap langit seraya berkata
“Semoga kamu melihatku
dari sana,Aini. Bahagia disana ya, Aku bakalan tetep jadi sahabat kamu.Kamu gak
akan tergantikan.Ni. Miss You.”
~Novia Fauziyah Kurnia
Setiawan~