Sabtu, 10 Desember 2016

She is my really bestfriend



SHE IS MY REALLY BEST FRIEND

            Masa SMA adalah masa yang paling indah,itulah kata orang kebanyakan. Dan kini aku sedang memulai masa indah itu. Mendapatkan kelas yang baru membuat ku harus mencari teman yang baru,dari sekian banyak siswi perempuan yang ada,mataku tertuju pada sosok perempuan tinggi berkacamata,ya dia adalah Aini orang yang sangat ingin ku jadikan teman,entah kenapa aku sangat ingin berkenalan dengannya. Karena menurutku dari wajahnya,ia adalah sosok wanita yang ramah,sederhana dan  tidak memandang adanya perbedaan kasta ekonomi.
Aku pun menghampiri Aini yang duduk di barisan depan,
“Kamu Aini,kan?” ucapku memulai pembicaraan
“Iya.”
“Aku Nida. Eh aku juga minus,kamu minus berapa?”
            Dia tak menjawab pertanyaanku,mungkin karena kalimatku yang terkesan so akrab membuatnya agak menjaga jarak padaku.
            Aku terus berusaha mendekati Aini,dan usahaku tidak sia-sia. Aku bisa bertambah dekat dengannya, bangku ku dengannya sangatlah dekat. Tak aneh apabila aku sering bekerja sama dengannya apabila ada tugas yang aku kurang mengerti,aku pun dekat dengan teman sebangkunya,yang bernama Fitri. Mereka adalah rekan yang sangat bisa kuajak berbagi cerita,termasuk mengenai hal yang pribadi seperti masalah cinta ataupun keluarga. Kami pun bersepakat untuk gabung ke dalam ekstrakurikuler yang sama,yakni ekstrakurikuler Pelajar Masjid. Dari sanalah persahabatan kami kian dekat.  
“Aini,Fitri ,ayo kumpul. Malu ih,kita kabur terus.”
“Ayo.” Seru Fitri
”Males eum. Bosen kumpul nya juga.” Ia pun melangkah pergi,akan tetapi aku cegat tangannya.
“Boring,nid.”
“Ih,kalau kita gak kumpul,kita gak akan bisa liat kakak ganteng tau.”
“Kamu bisa aja bujuknya,ayo.”
            Akhirnya,Aini pun ikut kumpul. Canda tawa terus mengiringi langkah kami bertiga. Kami selalu bersama saat itu,bahkab bangku yang hanya cukup untuk dua orang saja kami bagi agar bisadi duduki oleh tiga orang.
***

            Menginjak kelas XI,Aku dan Fitri harus berpisah dengan Aini. Karena Aku dan Fitri terdaftar sebagai siswa di kelas XI IPA 1,sedangkan Aini di kelas XI IPA 3. Sungguh,sedih rasanya berpisah dengan Aini,kusangka hanya aku dan Fitri lah yang merasakan kesedihan karena berpisah dengannya,ternyata Aini juga merasakan hal yang sama. Ia merasa kesepian di kelas XI IPA 3,awalnya memang cukup sulit baginya untuk menyesuaikan diri di kelas XI IPA 3,tapi seiring berjalannya waktu,ia dapat merasakan kenyamanan di kelas XI IPA 3,walaupun kenyamanan yang ia rasakan tak senyaman saat ia sekelas dengan aku dan Fitri. Tetapi walaupun begitu komunikasi kami tetap terjalin,meski tak sesering saat kelas X,kami pun hanya bertemu apabila kami melaksanakan sholat,saat istirahat,dan juga saat kumpul sesama Pelajar Masjid.

***

            Waktu demi waktu berlalu,tak terasa penghujung perjalanan SMA kami akhirnya tiba. Kelas kami pun diubah kembali,kini Aku yang dipisahkan dari mereka berdua. Aku menjadi siswa XII IPA 2,sedangkan Fitri dan Aini di kelas XII IPA 1. Walaupun berbeda kelas,terkadang setiap istirahat kami selalu berkumpul bersama dengan anggota Pelajar Masjid yang lain, baik itu di kelas XII IPA 1 ataupun di kelas XII IPA 2.  Dan juga apabila kelas kami sedang tidak ada guru pada saat jam pelajaran ke 2,kami selalu menyempatkan diri untuk sholat dhuha di masjid,dengan hal itu hati kami menjadi tenang,karena menjadi kelas XII adalah masa yang sangat berat,dimana pada saat itu kita harus memilih jalan mana yang harus kita ambil setelah kami lulus. Aku,Fitri dan Aini mempunyai tujuan yang sama,yakni kami sama-sama ingin melanjutkan kuliah di perguruan tinggi negeri,apapun caranya akan kami tempuh untuk bisa menjadi mahasiswi. Hanya program studi yang kami ambil saja yang berbeda.
”Pokoknya Aini pengen tetep jadi guru biologi.”
“Ya udah,aku guru bahasa Inggris di SMA kita”
“Awas nid,jangan sampai flashback kamu,bukannya ngajar malah curhat.” Canda Aini
“Iya ya,ntar mzlah curhat sepanjang KBM.hahahaha” Balas Fitri yang ikut membully-ku
“Ya gak sampai gitu juga kali,ya kali aku nyeritain si dia di depan siswa,aib itu.”
“Kali aja,Nid. Fitri.kamu mau jadi guru apa ntar?.”
“Guru PAI,ni. Hihi.insyaallah.”
“nge dalil dia ntar. Asupannya dalil Qur’an setiap hari.” Ucapku asal
“haha,bener bener. Kenyang sama dalil.” Balas Aini yang kini giliran ikut membully Fitri,dan Fitri pun hanya bisa pasrah akan candaan kedua sahabatnya itu.
            Kami pun lulus bersama,dengan nilai yang tidak mengecewakan,kami bangga akan hasil sendiri,setelah sebelumnya kami belajar bersama dengan Ina dan Fani. Selanjutnya kami  mencoba berbagai jalur untuk masuk PTN,mulai dari jalur rapot hingga jalur tertulis. Kami daftar bersama-sama,terkadang aku yang terlebih dahulu mendaftar,sedangkan Fitri dan Aini daftar belakangan,disaat itulah aku menjadi pusat pertanyaan mereka berdua. Hari yang kami nanti pun tibaAku dan Fitri lolos di jalur undangan dan diterima sebagai mahasiswi di salah satu perguruan tinggi negeri.terlihat gurat kekecewaan di status facebook yang Aini tulis,ku tahu ia sedikit kecewa dengan hasil tersebut,meski begitu ia tetap semangat mengejar kami berdua agar bisa menjadi mahasiswi di perguruan tinggi negeri yang Aku dan Fitri pilih.
“Cieee selamat ya Nida sama Fitri,sahabatkuu. Tunggu Aini nyusul,nttar kita kuliah bareng di PTN yang sama.”
            Sedih memang melihat status Aini tersebut,sebagai sahabat yang baik,Aku dan Fitri pun menyemangatinya. Tetapi sayangnya,saat Aini daftar ujian tulis tersebut,Fitri tidak mengambil kesempatannya itu,dikarenakan kurang ada persetujuan dari ayahnya. Dari sanalah,aku sangat berharap sangat besar Aini dapat lolos,karena aku ingin mempunyai teman dari satu SMA yang sama. Dan perjuangan yang dilakukan Aini pun tak sia-sia,ia lolos di jalur ujian tulis. Aku yang mencari tahu tentang kelolosan Aini melalui sebuah Koran yang dimiliki oleh temanku di facebook,kebahagiaan sungguh terukir jelas kini. Awalnya ia tak puas dengan hasilnya,karena prodi dimana ia lolos adalah pilihan kedua,tapi dengan pertimbangan yang cukup matang,ia akhirnya menerima hasil tersebut. Dan ia pun menyelesaikan segala persyaratan kelulusannya,karena aku sangat bahagia atas kelulusannya,aku bersedia untuk mengantarnya kemana saja ia mau. Mulai dari sanalah,aku semakin dekat dengan Aini,kami merencanakan segala kegiatan yang akan kami lakukan setelah resmi menjadi mahasiswi. Menjelang masa orientasi,Aku dan Aini menyempatkan diri untuk menghibur diri dengan berkaraoke ria di salah satu tempat perbelanjaan terdekat.
“Kita mau nyanyi apa ni?”
“Apa ya? Dangdut aja ya nid.”
“Gimana kalau lagu Siti Nurhaliza yang Nirmala?”
“Nah itu bagus,itu aja nid.”
“Rekam pake hp kamu ni,ntar aku upload ke youtube.”
“siap,siap.”
“Ni,kita foto-foto dulu yuk sama boneka,jangan beli,kita foto aja. mumpung sepi.”
“Hayu,nid.”
“Sama katel juga yuk,supaya kekinian.haha”
“Boleh boleh,koleksi lah. Kenangan.hahaha.”
“Ntar upload ya sama kamu,ni. Kegilaan sebelum ospek gitu.”
“Siap,nid.”
“Ni,jajan yuk. Yang 500an aja,hemat. Uang aku sisanya tinggal buat ongkos doang.”
“Sama Aini juga,nid. Ya udah,beli yang murah aja.”
“Sama kamu yang bayarnya ya.hehe.”
“Iya.”
“Ni,ongkos kan 3.000 ya,aku cuma punya 2.400 masa.”
“Hahaha Aini juga sama ih.”
“Gimana kalau kita jalan dulu? Hemat ongkos,hehe.”
“Nah bisa,ayo. Aku tau jalannya,tapi nid,Aini ntar nitip ongkosnya ya,kan kamu yang turun terakhir.hehe.” Aini pun cengengesan padaku,berharap aku menyetujui permohonannya.
“Selalu. Iya lah iya.”
            Aku pun menikmati sepanjang hari itu bersama Aini,kami pun pulang setelah adzan dzuhur berkumandang. Begitu bahagia rasanya,seakan beban yang kini menumpuk pun terlepas dari tempatnya.
            Waktu orientasi pun tiba,ternyata alumni dari SMA kami cukup banyak yang terdaftar menjadi mahasiswa di PTN ini. Ada aku,Aini,Ina,Elsi dan Hana. Kami pun membuat grup agar silaturahmi tetap terjalin meski kami semua berbeda program studi,kami menyusun beberapa rencana seperti mempromosikan PTN kami ke SMA kami nantinya,dan juga kami merencanakan untuk berfoto bersama saat kami mempunyai jas almamater.
“Nanti Sriguci kalau udah punya jas almamater foto bareng ya?”  Saranku dengan menampilkan wajah semanis mungkin agar mereka menyetujui saranku.
“Ayo. Eh,apa bener ntar Januari kita ke SMA buat promosiin universitas?” Balas Aini seraya bertanya
“Iya katanya. Nanti tanya aja ke Ibu Siti,nid.” Titah Hana padaku
“Sama aku? Aishhh,iya iya.”

***

            Masa-masa sibuk kami lalui,tapi di sela-sela kesibukanku dengan Aini,aku selalu cerita mengenai masalah ku padanya,begitu pula sebaliknya. Tak kenal waktu,kami selalu merancang kenangan indah bersama baik itu pada saat menjadi mahasiswa ataupun setelah kami lulus nantinya. Suatu hari Aku,Aini dan Fitri berkumpul bersama dirumahku untuk sekedar berbagi pengalaman kuliah. Kami seperti sudah lama tak bertemu,karena kami meluapkan segala kebahagiaan kami yang bisa menjadi mahasiswi pada saat itu.  Hanya yang berbeda dari kami ialah Fitri yang akhirnya bisa tetap berkuliah di PTS sebar bekerja,sungguh ia merupakan sosok yang paling tangguh diantara kami bertiga.
***

            Tugas-tugas terus berdatangan,berbagai presentasi harus kami lalui,ulangan tengah semester pun sudah ada di depan mata. Aku dengan semangat menghafal segala materi yang telah diberikan dosen,aku berusaha sebisa mungkin agar tidak di remedial. Dan akhirnya usaha yang kulakukan tak sia-sia. Setelah itu,masa-masa tenang pun tiba,aku dan Aini berencana untuk menonton film di bioskop bersama.
 “Aini,ke bioskop yuk.”
“Ayo,sekalian reuni sama anak Pelajar Masjid kan?”
“Iya,ajak mereka sama kamu.”
“Takut gak dijawab sama merekanya,nid.”
“Coba dulu kali. Eh kapan emang kita mau ke bioskop nya?”
“Next week yaa.”
            Sungguh tak sabar rasanya aku menunggu waktu demi waktu menjelang hari minggu itu. Setelahnya.Aku dan Aini pulang ke rumah bersama,sepanjang jalan aku curhat kepadanya,begitu pun ia.  Saat akan tiba di tempat yang kami tuju,Aini baru saja tertidur,tak tega aku membangunkannya. Tetapi mau bagaimana lagi,daripada kami salah jalan karena kebablasan bukan?
“Aini,bangun. Udah sampe.”
“Oh udah sampe,nid?”
“Iya,ayo. Eh,makasih ya udah ngasih aku tumpangan nginep.”
“Sama-sama,nid.”
            Keesokan harinya aku berulang tahun yang ke 19,ucapan-ucapan dari sahabat,rekan dan kawan berdatangan padaku. Bahagia hatiku,karena di ulang tahun yang ke 19 ini,segala permohonan ku dapat tercapai seperti menjadi mahasiswi di salah satu PTN. Alhamdulillah ~
            Hingga menit-menit terakhir menuju akhir dari tanggal 12 November,Aku sangat menunggu ucapan Aini,karena tidak biasanya ia terlambat mengucapkan ulang tahun padaku,aku juga heran sendiri,mengapa aku sangat menunggu ucapan darinya? Tapi akhirnya keesokan hari,Aini mengucapkan selamat atas ulang tahunku lewat pesan facebook,ia tidak mengucapkannya kemarin karena ia sedang menghemat baterai,alasan yang sungguh aneh. Untungnya dia sahabatku,aku terima saja alasannya,karena aku sangat menghargainya. Lebih baik terlambat mengucapkan daripada tidak mengucapkan sama sekali bukan?
“Selamat ulang tahun Nida,Maaf baru ngucapin,kemarin lagi ngehemat baterai. Semoga panjang umur dan segala yang diinginkan dapat tercapai.:D Aamiin.”
“Aamiin,gak apa-apa Ni,Makasih yaa:D”
            Keesokan harinya,banjir terjadi di Bandung,sungguh ini sangat menghambat kegiatanku. Begitu pula dengan ayahku yang akan berangkat kerja,ia pun kebingungan mencari jalan. Seolah berpacu dengan waktu,ayahku mencari jalan alternatif agar kami berdua bisa sampai di tujuan masing-masing. Akhirnya setelah 1,5 jam di perjalanan,aku dapat sampai di tempat kuliah. Diantara empat mahasiswa yang beralamat di Cicalengka,hanya aku saja yang bisa sampai di tempat kuliah. Aku sangat bersemangat menjalani kegiatan kuliah tersebut,terlebih lagi saat mata kuliah bahasa Indonesia,karena pada saat itu,kelompokku lah yang berpresentasi.
            Waktu pulang pun tiba,aku sungguh menunggu saat-saat ini. Tak sabar bagiku untuk sampai ke rumah,aku pun menaiki kobutri,sebari berharap agar tidak terjadi kemacetan lagi. Kurasakan handphone ku bergetar sedari tadi,aku berfikir mungkin itu hanyalah peringatan handphone ku yang sedang dalam keadaan low battery. Tetapi ternyata dugaanku salah,temanku Rini meneleponku. Terdengar samar yang kudengar,karena kukira mungkin karena sinyal yang kurang memadai. Aku pun menutup telepon dari Rini,karena pasti jika dia perlu tak lama ia akan meneleponku kembali. Saat aku menutup telepon dari Rini,kulihat beberapa sms telah masuk ke handphone ku,ku baca sms tersebut satu per satu. Kaget,Shock,Sedih,Sakit Hati kurasakan saat aku membaca sms dari Isti.
Nida,Aini meninggal. Kecelakaan tadi subuh,pas mau berangkat ke kampus.
Air mata pun tiba-tiba mengucur deras di wajahku,tak ku perhatikan ekspresi dari penumpang yang lain,yang pasti aku tak mempedulikannya. Dengan hati yang terus bergetar,aku berusaha sekuat mungkin agar aku bisa cepat sampai di rumah Aini. Hatiku berdetak tak menentu,saat tiba mendekati rumahnya,aku berlari sekuat tenaga. Berharap agar berita tersebut hanyalah mimpi. Tapi harapanku pupus sudah,saat Dian dan Isti baru saja keluar dari rumah Aini,aku pun langsung menangis dan memeluk Dian yang dibonceng oleh Isti.
“Dian,ini bohong kan? Aini kan mau ke bioskop sama aku minggu depan. Dia juga udah janji mau jadi guru MI di Bandung,Bulan Januari juga kita sama-sama mau ke SMA. Aini masih ada kan?”
“Nida,yang sabar ya.”
Ucapan Dian tersebut tak berefek padaku,air mata terus bercecer di pelupuk wajahku.
“Ya Allah,sampai gini banget kamu,Nid. Aku tahu kok kamu deket banget sama Aini. Sabar Nid,sabar.”
            Setelah kejadian tersebut,yang aku lakukan hanya bisa melamun dan membayangkan masa-masa indahku bersama Aini,dan memikirkan pula rencana-rencana yang telah kami rancang yang sekarang hanya bisa dijadikan sebagai kenangan. Disana aku merasa sandaranku hilang,roboh. Tak kuasa aku menopang kesedihanku,tak bisa aku menahan segala kesedihanku yang telah kuusahakan  sebisa mungkin untuk tidak runtuh. Tapi hasilnya nihil,saat bunyi sirine ambulans tiba,dan jenazah Aini di keluarkan. Betapa sakitnya hatiku,melihatnya. Aku menyesal belum bisa mewujudkan segala keinginannya,termasuk untuk bisa berkumpul dengan Alumni pelajar Masjid yang lain. Sesak saat ia ditutupi oleh kain putih tersebut,ku harap itu adalah mimpi,tapi akhirnya kusadari ini kenyataan,dan aku pun harus menerimanya.
            Hari-hari ku lewati tanpa Aini,tiada lagi tempat bermuaranya ceritaku. Tiada lagi yang bisa kuajak berangan lepas merangkai masa depan. Hampa rasanya,tetapi aku sadar bahwasanya Aini pasti tidak mau melihat sahabat-sahabatnya terpuruk dalam kesedihan. Aku pun berusaha sekuat mungkin untuk tegar menjalani kehidupanku tanpanya,Lantunan do’a pun aku sampaikan untuknya di sela-sela waktuku. Ku yakin ia sekarang sudah lebih bahagia di tempat yang baru,karena kufikir bahwa Sang Pencipta lebih menyayangi Aini,oleh karena itu ia diambil terlebih dahulu.
            Beberapa minggu setelah kepergiannya,waktu pembagian jas almamater pun tiba. Saat ku mendapatkan jas tersebut,sungguh aku teringat kepada Aini yang sangat ingin berfoto ria menggunakan jas. Ku yakin dari atas sana,Aini melihat ku dan yang lain.
***
            Angin terus berhembus di langit kota Bandung,Awan gelap turut hadir pada saat itu, pertanda hujan akan segera turun. Tapi kuharap agar hujan jangan dulu turun sebelum aku tiba di rumah. Dan akhirnya do’a ku terijabah, Disana aku menunggu Ina yang sedang menghampiri dosennya. Sebari menunggunya,aku pun menatap langit biru nan indah itu,dan menikmati angin yang terus berhembus,sesaat aku pun tersenyum menatap langit seraya berkata
“Semoga kamu melihatku dari sana,Aini. Bahagia disana ya, Aku bakalan tetep jadi sahabat kamu.Kamu gak akan tergantikan.Ni. Miss You.”


~Novia Fauziyah Kurnia Setiawan~

Peduli Islam dengan menjadi pejuang di masa kini



PEDULI ISLAM DENGAN MENJADI PEJUANG DI MASA KINI

            Waktu terasa berjalan begitu cepat,hingga terkadang manusia yang lalai tidak memberikan kontribusinya terhadap dunia,mereka cenderung hanya berkomentar tanpa melakukan perubahan. Padahal dunia ini semakin tua,dan otomatis semakin sedikit pula waktu yang kita miliki untuk merubah dunia ini. Kita lihat,betapa hancurnya dunia tanpa kehadiran Rasulullah,bahkan keluarga Rasul,sahabat Rasul,dan tabi’in pun sudah tiada. Betapa hancurnya dunia tanpa mereka, pembunuhan merajalela,kekerasan dimana-mana,bahkan perilaku yang tak senonoh pun tak malu untuk dilakukan manusia akhir zaman ini,Naudzubillahimindzalik.
            Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai manusia yang peduli terhadap Islam? Mari kita lihat terlebih dahulu agar para pembaca meyakini bahwa sangat penting untuk merubah Masyarakat Islam mulai dari sekarang.
            Berbicara soal waktu,waktu terbagi menjadi tiga. Yaitu masa lalu,masa kini dan masa depan. Masa kini ialah masa dimana kita melakukan segala sesuatu,menjalankan segala perintah-Nya dan mempelajari semua ajaran-Nya,di masa ini pula kita bisa merubah Masyarakat Islam  sesuai dengan cara yang kita tempuh. Kini kita berbicara tentang masa depan,masa depan adalah masa yang paling luas dibandingkan dengan masa yang lain. Mengapa bisa seperti itu? Karena masa depan ialah waktu yang belum kita lalui,oleh karena itu mungkin apabila kita berumur panjang,otomatis masa depan adalah masa yang paling luas dibandingkan dengan masa yang lain. Sedangkan masa lalu adalah masa yang paling luas kedua setelah masa depan,dimana masa lalu terdapat banyak sejarah. Dari sejarah itu pula kita bisa mengambil banyak pelajaran mengenai kehidupan dalam berbagai segi. Tak jarang pula,dari sejarah kita bisa berhati-hati dalam bersikap atau mengambil langkah.
             Bisa kita ambil kesimpulan bahwa masa kini adalah masa yang paling berpengaruh, Kini Islam dipandang buruk oleh masyarakat awam,oleh karena itu kita sebagai salah satu pejuang Islam harus ikut berkontribusi dalam perubahan Islam dan membersihkan nama baik Agama Islam.di masa kini,kita bisa memulainya dengan melakukan perubahan terhadap masyarakat Islam,dan segera mengambil langkah untuk merubahnya.
            Kini kita sadar, sebagai manusia akhir jaman yang hidup tanpa Rasulullah,kita sepatutnya dapat mengetahui betul betapa kita harus bisa merubah dunia ini. Karena kita yang seharusnya memerankan tugas kerasulan setelah para Nabi dan Rasul tiada,dengan cara menjadi da’i atau da’iah. Pasti para pembacara berfikir bahwa tak mudah untuk menjadi seorang da’i atau da’iah itu. Tapi kita harus yakin,bahwa kita bisa,karena jika bukan kita yang merubah dunia ini,maka siapa yang akan merubah dunia yang semakin kini semakin hancur? Tentu jawabannya pasti diri kita sendiri.
            Awalnya, kita harus mempunyai cita-cita(ideologi) atau yang berarti sebagai pandangan cara berfikir,tapi tak cukup dengan hanya memiliki ideologi saja,kita harus mempunyai keyakinan pula agar cita-cita kita dapat tercapai,yakni cita-cita untuk merubah dunia,merubah masyarakat Islam kini. Tak lupa,kita juga harus percaya diri bahwasanya kita mempunyai ilmu untuk disebarkan. Oleh karena itu,mulailah dari lingkungan terdekat kita. Dengan cara mengaplikasikannya  atau merealisasikan ilmu tersebut. Agar orang lain yang tidak berkesempatan sekolah pun dapat mengetahui ilmu yang kita dapatkan. Karena betapa besar pahalanya jika seorang muslim menyebarkan ilmunya,sungguh dengan cara berbagi ini ilmu kita pun tidak akan berkurang sedikit pun. Contohnya apabila pembaca berada di daerah terpencil,anda bisa memulainya dari sana dengan mengajak para remaja atau anak kumpul di masjid terdekat. Lalu anda menyampaikan ilmu anda itu dengan gaya penyampaian sendiri,buatlah cara yang dapat menarik perhatian pendengar,sehingga para pendengar pasti tertarik dengan ilmu yang anda berikan. Misalkan dengan cara berpresentasi menggunakan properti ataupun berpresentasi dengan menampilkan sebuah film,tapi itu tergantung penonton yang anda ajak. Apabila cara ini berhasil pasti pendengar yang misalkan hanya lima orang bisa menjadi bertambah banyak karena tertarik dengan materi yang anda berikan. Dan kemudian anda ajak mereka untuk realisasikan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Ajaklah dengan cara yang baik,sehingga pasti tak lama dari itu,mereka tersadar akan apa yang harusnya mereka lakukan.
            Ataupun,apabila di lingkungan anda banyak yang mengenyam bangku kuliah. Anda bisa mengajak mereka untuk bekerjasama memajukan lingkungan anda,dengan cara berbagi informasi mengenai suatu hal,lalu dikumpulkan hingga menjadi sebuah materi yang bermanfaat yang bisa dibagikan kepada mereka yang tidak bersekolah. Atau anda secara bersama-sama dapat mencermati kondisi Islam di masa depan,bisa berdiskusi mengenai langkah yang akan diambil untuk merubah dunia dengan pengetahuan Islam yang anda dan kawan anda miliki.
            Saat berbagi ilmu,berusahalah semaksimal mungkin,ajaklah para pendengar yang benar-benar ingin menambah ilmu,jangan memaksakan yang tidak tertarik,karena sebagaimana yang saya sudah sebutkan tadi,apabila kita sudah bisa mengambil hati beberapa orang,pasti orang yang awalnya tidak tertarik pun pasti akan ikut tertarik dengan ilmu yang anda berikan.
            Mulailah merubah dunia dari lingkungan terdekat,karena suatu hal yang kecil akan berpengaruh menjadi hal yang besar apabila anda terus melakukannya dengan serius dan rutin. Tetapi satu hal yang perlu anda ingat,sebanyak-banyaknya ilmu yang anda miliki,itu hanyalah milik Allah,Ia yang mengenggam segalanya. dimana kita adalah salah satu objek yang ada dalam genggaman-Nya,karena pada hakikatnya yang menggenggam itu tidak mungkin lebih kecil daripada yang digenggam.
            Mari menjadi pejuang di masa kini,yang dapat merubah dunia dan khususnya merubah masyarakat Islam dari kehancuran dunia yang semakin tua. Karena apabila bukan kita yang merubahnya,siapa lagi? Kita harus sadar,betapa pentingnya ilmu Allah kini,karena hanya hal itu lah yang dapat menyelamatkan kita dari kehancuran.
Karya : Novia Fauziyah Kurnia Setiawan
BKI 1C

Langit,sampaikan rinduku



LANGIT,SAMPAIKAN RINDUKU

            Kesepian itulah yang kurasakan kini saat ia berada jauh dariku. Inginku memintanya untuk pindah saja dari tempat kuliahnya kini,tapi aku fikir aku terlalu egois apabila aku memintanya untuk melakukan hal tersebut. Aku juga tak punya hak untuk memerintahnya seperti itu. Berbagai macam kegalauan tentangnya telah kuceritakan kepada sahabat-sahabatku,kuharap mereka tak bosan mendengar ceritaku itu.
"Lagi lagi dia hilang. bagus! udah move on kali ya?" ucapku geram
"sibuk mungkin,wi." balas temanku yang berwajah selalu tenang,mungkin apabila badai dan gempa datang secara  bersaman,wajahnya akan selalu nampak tenang.
"Mungkin" ucapku dengan penekanan
            Iyap,Hubunganku dengannya mungkin tak sejelas hubungan yang dimiliki orang lain,statusku dengannya masih bisa dibilang gantung,karena pada dahulu saat ia akan ‘menembak’,aku menolaknya terlebih dahulu dikarenakan pada saat itu aku belum siap untuk menjalin komitmen,memang tak bisa dipugkiri pada saat itu akulah yang menyukainya lebih awal,bisa dibilang aku adalah penggemar sejatinya. Dua tahun aku mengejar cintanya,yang tak kunjung ia balas. Tetapi setelah penantian selama dua tahun itu,akhirnya dialah yang berbalik mengejar cintaku,aneh memang,cintaku terbalas saat aku ingin berpindah ke lain hati. Apakah mungkin dia juga sudah lama menyimpan perasaan padaku? Hanya dia dan Tuhan lah yang tahu. Aku benar-benar seperti diatas angin pada saat itu,Zaki yang notabene adalah orang yang berada dalam penantianku  bisa berbalik,dan melangkah kepada seorang Dewi yang sudah lama mengejarnya.
            Beribu perhatian ia berikan padaku,mulai saat itu,dari memberiku hadiah saat aku berulang tahun,memberi nasihat dan solusi pada setiap masalahku,memberi perhatian saat aku sakit,dan yang paling menggugah perasaanku ialah saat aku akan terlelap tidur,ia mengirimiku voice note suara gitar lagu Janji Suci yang dilantunkan oleh band Yovie n Nuno. Senyum bahagia terukir di wajahku,tanganku secara otomatis menutup mulut yang tak sanggup menahan kebahagian di malam hari itu,mataku berkaca-kaca pertanda aku bahagia bisa bersamanya kini. Mulai dari sanalah aku yakin bahwa ia benar-benar mencintaiku.
            Jika memutar kembali semua kejadian yang ku alami,aku  jadi ingin kembali pada masa  itu. Tapi aku tak mau suatu kejadian yang kualami sesudah kebahagiaan-kebahagiaan itu hadir pun ikut muncul kembali.
            “Kamu lulus ya? Akhirnya jadi mahasiswa.” Ketikku di facebook messenger,kemudian aku kirim pesan tersebut. Besar harapan agar ia dapat segera membalas,apapun itu jawabannya.
Tak lama,ia pun akhirnya membalas pesanku
            “Aku lulus di salah satu perguruan tinggi negeri,wi.”
            “Wah,selamat ya. Jurusan apa ki?”
            “Teknik Informatika.”
            “Itu kan keinginan kamu ya? Belajar yang bener,jangan niatnya cuma cari cewek cantik doang.”
            “Siap bu guru,jangan bawel ah.”
            Bahagia sekaligus sedih bercampur dalam hidupku saat ini,bahagia karena orang yang kucintai itu dapat menjadi mahasiswa menyusul diriku yang terlebih dahulu sudah lulus pada program studi keguruan di salah satu perguruan tinggi negeri yang berbeda dengannya. Sedih, sedih karena jarak itu akan memisahkan kita berdua.

***

            Waktu demi waktu berlalu,air hujan terus menetes dan tak kunjung henti di langit Bandung ini,hembusan angin yang begitu kencang belum bisa menggoyahkanku untuk tidak berangkat kuliah,kakiku tetap melangkah menembus air hujan yang kini bertambah besar,sudah biasa bagiku saat akan berangkat kuliah diiringi oleh air hujan yang sangat rutin turun dari langit biru nan indah ini. Tiba saat aku di tempat kuliah,bajuku sudah basah kuyup dibanjiri oleh air hujan yang sedari tadi tak kunjung henti. Aku pun berdiri di luar ruang kuliah, berniat untuk mengeringkan bajuku yang memang tak akan kering seperti semula,walaupun begitu setidaknya tampilanku masih pantas terlihat oleh dosen sebagai mahasiswi yang rapi.
            Hembusan angin terus bertiup,menyapa semua mahasiswa yang berlarian kesana kemari mencari tempat berteduh,ia pun ikut menyapa diriku,kedua tanganku pun aku gosokkan untuk meringankan rasa dingin yang kini hadir. Saat menikmati suasana pagi hari di Kota Bandung,aku teringat pada sosok Zaki yang kini sedang berada jauh dariku,beribu pertanyaan muncul dalam benakku, apa yang sedang ia lakukan? Seberapa banyak tugas yang ia kerjakan hingga ia terkadang bersikap acuh padaku? Dan Apakah dia sudah menemukan perempuan yang lebih dariku? Sehingga ia berubah sikap padaku?
            Terbesit keinginan untuk men-chatnya,tetapi rasa gengsiku masih tinggi dibanding rasa rinduku padanya,aku hanya bisa berharap agar ia yang terlebih dahulu men-chatku. Sungguh,rasa cinta yang masih bersemayam dalam hatiku membuatku kaku pada cinta-cinta yang akan hadir,aku cenderung menjauh dan menjaga jarak pada kaum Adam,karena kufikir hatiku telah dirantai olehnya. Sehingga aku tidak bisa berpaling ke lain hati.
            Zaki Arifin mengomentari status anda
Beribu kebahagiaan muncul saat aku melihat pemberitahuan tersebut,dengan segera ku buka pemberitahuanku itu.
            “Friendship,peemak,first love.itu film Thailand yang rame, cari aja. cari website khusus download yang ada subtitle nya langsung. Nanti sama aku inbox websitenya lah.”
            Begitulah komentarnya,senang memang. Tapi mulai dari sanalah sikap curiga ku muncul,dia tak pernah mengomentari statusku apapun itu, termasuk status yang menyindirnya pun,ia tak pernah berkomentar apabila status itu ditulis olehku. Dahulu ia beralasan bahwa apabila ia berkomentar di statusku,keesokan harinya pasti akan ada berita tentang kami berdua yang membuat     dua kelas heboh,dan darisanalah aku dan ia sama-sama tak bisa mengelak berita tersebut nantinya,yang pastinya dalam posisi tersebut kami berdua akan bersikap salah tingkah. Posisi yang sangat skak mat bukan? Dan Apakah ia sekarang sudah tak memiliki perasaan padaku? Sehingga ia sekarang berani berkomentar di statusku? Kuharap bukan itu alasannya,tapi apapun itu,aku harus siap menerima segala alasannya dan pernyataan perasaannya apabila aku bertanya nantinya.
            Aku pun berniat untuk mencari cara agar  bisa mengetahui perasaannya kini,aku pun men-chat nya lewat facebook.
            “Ada lagi film Thailand yang rame gak? Aku udah download di youtube,tapi gak ketemu terus yang kamu rekomendasiin itu.”
            “ada di website film Thailand yang bersubtitle indo,khusus websitenya,searching aja wi.”
            “Susah ih nyarinya juga,susah dimengerti juga,kayak kamu.”
            “Aku emang susah dimengerti,wi. Jadi kamu cari aja laki-laki lain di kampus,banyak kan disana? Pasti lebih sholeh,lebih baik juga dibanding aku.”
            “Apaan sih.. bercanda juga.”
            “Aku serius,aku udah berfikir ‘bagaimana jika…. ‘ (berandai-andai suatu kemungkinan) Jadi sekarang lebih baik kamu cari yang lain,bosen kali suka sama aku terus. Kita temenan aja sekarang.”
            “Bukannya dari dulu kita temenan kan? Cuma aku nya aja terlalu bawa perasaan ke kamu.aku yang salah,maaf.”
            “Enggak,kamu gak salah. Aku yang salah,aku terlalu berlebihan. Aku yang gak enak sekarang.”
            “Gak enak gimana,Ki?”
            “Aku merasa gak bebas.”
            “Ya udah,kamu boleh kok cari perempuan lain. Aku gak larang,yang banyak carinya.”
            “Iya,mau cari yang banyak. siapa tahu aja ada yang jodoh.”
            “Iya silahkan. Udah kembali ke topik,film apa aja yang rame?”

            Sungguh,aku tak bisa menguraikan perasaanku pada saat itu,kekecewaan yang ku takutkan itu hadir,memang awalnya aku telah berjanji agar bisa tegar apapun pernyataannya. Tapi entahlah,rasa kekecewaan yang lebih aku rasakan saat ini.

***

            Air hujan terus menerus turun dan tak kunjung henti di Langit Kota Bandung,untungnya pada saat ini,aku telah duduk di sebuah angkutan umum,setidaknya aku bisa terjaga dari air hujan yang akan membasahi bajuku. Aku tak ingin masuk angin saat aku tiba di rumah nanti. Tanganku merogoh ke dalam tas,lalu mengambil sebuah benda yang mungkin dengan alat ini,aku dapat terhibur dari kepenatan tugas-tugas dan materi yang diberikan oleh dosen. Headshet itu pun ku pasang di kedua telinga,punggungku bersandar pada kursi,ku harap kursi tersebut nantinya bisa menopangku saat aku tertidur. Ku putar sebuah lagu secara acak,setelah sebelumnya aku mendengarkan lagu Ruang Rindu yang dilantunkan oleh grup band Letto,sebuah lagu yang mengingatkanku pada kenangan yang telah lalu pun terputar dengan sendirinya.
            Dengarkanlah,wanita pujaanku. Malam ini akan ku sampaikan,janji suci kepadamu Dewiku,dengarkanlah kesungguhan ini. Aku ingin mempersuntingmu,tuk yang pertama,dan terakhir.

            Ku hayati semua lirik lagu tersebut,sebari mengingat semua kenangan yang pernah ku lalui bersama dengannya. Sekali waktu,aku melihat keluar jendela dari angkutan umum ini,ku melihat langit biru tersebut,langit itu sangatlah indah,ia seakan menjadi perantara rasa rinduku padanya yang kini jauh disana,yang kini sedang mengerjakan semua tugasnya untuk meraih semua cita-citanya. Aku harus tetap mendukungnya,walaupun kini aku dan dia punya jalan yang berbeda,dan sudah mempunyai status yang pasti sebagai ‘Temannya’. Aku haruslah tetap menyemangati nya dalam diam,dan menunggunya seperti saat di SMA dulu,aku berharap kejadian yang dahulu terjadi dapat terulang kembali,dan ku harap ia dapat kembali lagi padaku.
            Entahlah,sudah beberapa bulan aku lewati tanpa kabar darinya,tapi hingga kini aku tak kunjung dapat berlari dari kisah cintanya. Huftt…Aku tak boleh terlalu larut dalam nostalgianya, Aku pun memalingkan wajah keluar jendela sebari menatap langit, dan beberapa pertanyaan muncul dalam benakku. Sebari menikmati keramaian kota Bandung,aku berkata secara perlahan ke arah luar jendela ”Zaki Arifin,Mahasiswa Teknik Informatika,seorang laki-laki yang dulu pernah hadir dalam hidupku,Apakah kamu merindukanku disana seperti aku yang kini merindukanmu? Apakah hanya aku sendiri yang kini hanya akan menunggumu? Aku harap kamu bisa kembali lagi. aku selalu rindu kamu,Zak.”
            Mataku berkaca-kaca mengucapkannya,jujur aku mengungkapkannya dari hatiku. Miris memang,tapi apalah daya,kini aku hanya bisa mendo’akannya dari jauh. ku harap Sang Khalik dapat mempertemukan aku dengannya di kemudian hari dengan Skenario-Nya yang sangat indah dan tak terduga.