Sabtu, 10 Desember 2016

Langit,sampaikan rinduku



LANGIT,SAMPAIKAN RINDUKU

            Kesepian itulah yang kurasakan kini saat ia berada jauh dariku. Inginku memintanya untuk pindah saja dari tempat kuliahnya kini,tapi aku fikir aku terlalu egois apabila aku memintanya untuk melakukan hal tersebut. Aku juga tak punya hak untuk memerintahnya seperti itu. Berbagai macam kegalauan tentangnya telah kuceritakan kepada sahabat-sahabatku,kuharap mereka tak bosan mendengar ceritaku itu.
"Lagi lagi dia hilang. bagus! udah move on kali ya?" ucapku geram
"sibuk mungkin,wi." balas temanku yang berwajah selalu tenang,mungkin apabila badai dan gempa datang secara  bersaman,wajahnya akan selalu nampak tenang.
"Mungkin" ucapku dengan penekanan
            Iyap,Hubunganku dengannya mungkin tak sejelas hubungan yang dimiliki orang lain,statusku dengannya masih bisa dibilang gantung,karena pada dahulu saat ia akan ‘menembak’,aku menolaknya terlebih dahulu dikarenakan pada saat itu aku belum siap untuk menjalin komitmen,memang tak bisa dipugkiri pada saat itu akulah yang menyukainya lebih awal,bisa dibilang aku adalah penggemar sejatinya. Dua tahun aku mengejar cintanya,yang tak kunjung ia balas. Tetapi setelah penantian selama dua tahun itu,akhirnya dialah yang berbalik mengejar cintaku,aneh memang,cintaku terbalas saat aku ingin berpindah ke lain hati. Apakah mungkin dia juga sudah lama menyimpan perasaan padaku? Hanya dia dan Tuhan lah yang tahu. Aku benar-benar seperti diatas angin pada saat itu,Zaki yang notabene adalah orang yang berada dalam penantianku  bisa berbalik,dan melangkah kepada seorang Dewi yang sudah lama mengejarnya.
            Beribu perhatian ia berikan padaku,mulai saat itu,dari memberiku hadiah saat aku berulang tahun,memberi nasihat dan solusi pada setiap masalahku,memberi perhatian saat aku sakit,dan yang paling menggugah perasaanku ialah saat aku akan terlelap tidur,ia mengirimiku voice note suara gitar lagu Janji Suci yang dilantunkan oleh band Yovie n Nuno. Senyum bahagia terukir di wajahku,tanganku secara otomatis menutup mulut yang tak sanggup menahan kebahagian di malam hari itu,mataku berkaca-kaca pertanda aku bahagia bisa bersamanya kini. Mulai dari sanalah aku yakin bahwa ia benar-benar mencintaiku.
            Jika memutar kembali semua kejadian yang ku alami,aku  jadi ingin kembali pada masa  itu. Tapi aku tak mau suatu kejadian yang kualami sesudah kebahagiaan-kebahagiaan itu hadir pun ikut muncul kembali.
            “Kamu lulus ya? Akhirnya jadi mahasiswa.” Ketikku di facebook messenger,kemudian aku kirim pesan tersebut. Besar harapan agar ia dapat segera membalas,apapun itu jawabannya.
Tak lama,ia pun akhirnya membalas pesanku
            “Aku lulus di salah satu perguruan tinggi negeri,wi.”
            “Wah,selamat ya. Jurusan apa ki?”
            “Teknik Informatika.”
            “Itu kan keinginan kamu ya? Belajar yang bener,jangan niatnya cuma cari cewek cantik doang.”
            “Siap bu guru,jangan bawel ah.”
            Bahagia sekaligus sedih bercampur dalam hidupku saat ini,bahagia karena orang yang kucintai itu dapat menjadi mahasiswa menyusul diriku yang terlebih dahulu sudah lulus pada program studi keguruan di salah satu perguruan tinggi negeri yang berbeda dengannya. Sedih, sedih karena jarak itu akan memisahkan kita berdua.

***

            Waktu demi waktu berlalu,air hujan terus menetes dan tak kunjung henti di langit Bandung ini,hembusan angin yang begitu kencang belum bisa menggoyahkanku untuk tidak berangkat kuliah,kakiku tetap melangkah menembus air hujan yang kini bertambah besar,sudah biasa bagiku saat akan berangkat kuliah diiringi oleh air hujan yang sangat rutin turun dari langit biru nan indah ini. Tiba saat aku di tempat kuliah,bajuku sudah basah kuyup dibanjiri oleh air hujan yang sedari tadi tak kunjung henti. Aku pun berdiri di luar ruang kuliah, berniat untuk mengeringkan bajuku yang memang tak akan kering seperti semula,walaupun begitu setidaknya tampilanku masih pantas terlihat oleh dosen sebagai mahasiswi yang rapi.
            Hembusan angin terus bertiup,menyapa semua mahasiswa yang berlarian kesana kemari mencari tempat berteduh,ia pun ikut menyapa diriku,kedua tanganku pun aku gosokkan untuk meringankan rasa dingin yang kini hadir. Saat menikmati suasana pagi hari di Kota Bandung,aku teringat pada sosok Zaki yang kini sedang berada jauh dariku,beribu pertanyaan muncul dalam benakku, apa yang sedang ia lakukan? Seberapa banyak tugas yang ia kerjakan hingga ia terkadang bersikap acuh padaku? Dan Apakah dia sudah menemukan perempuan yang lebih dariku? Sehingga ia berubah sikap padaku?
            Terbesit keinginan untuk men-chatnya,tetapi rasa gengsiku masih tinggi dibanding rasa rinduku padanya,aku hanya bisa berharap agar ia yang terlebih dahulu men-chatku. Sungguh,rasa cinta yang masih bersemayam dalam hatiku membuatku kaku pada cinta-cinta yang akan hadir,aku cenderung menjauh dan menjaga jarak pada kaum Adam,karena kufikir hatiku telah dirantai olehnya. Sehingga aku tidak bisa berpaling ke lain hati.
            Zaki Arifin mengomentari status anda
Beribu kebahagiaan muncul saat aku melihat pemberitahuan tersebut,dengan segera ku buka pemberitahuanku itu.
            “Friendship,peemak,first love.itu film Thailand yang rame, cari aja. cari website khusus download yang ada subtitle nya langsung. Nanti sama aku inbox websitenya lah.”
            Begitulah komentarnya,senang memang. Tapi mulai dari sanalah sikap curiga ku muncul,dia tak pernah mengomentari statusku apapun itu, termasuk status yang menyindirnya pun,ia tak pernah berkomentar apabila status itu ditulis olehku. Dahulu ia beralasan bahwa apabila ia berkomentar di statusku,keesokan harinya pasti akan ada berita tentang kami berdua yang membuat     dua kelas heboh,dan darisanalah aku dan ia sama-sama tak bisa mengelak berita tersebut nantinya,yang pastinya dalam posisi tersebut kami berdua akan bersikap salah tingkah. Posisi yang sangat skak mat bukan? Dan Apakah ia sekarang sudah tak memiliki perasaan padaku? Sehingga ia sekarang berani berkomentar di statusku? Kuharap bukan itu alasannya,tapi apapun itu,aku harus siap menerima segala alasannya dan pernyataan perasaannya apabila aku bertanya nantinya.
            Aku pun berniat untuk mencari cara agar  bisa mengetahui perasaannya kini,aku pun men-chat nya lewat facebook.
            “Ada lagi film Thailand yang rame gak? Aku udah download di youtube,tapi gak ketemu terus yang kamu rekomendasiin itu.”
            “ada di website film Thailand yang bersubtitle indo,khusus websitenya,searching aja wi.”
            “Susah ih nyarinya juga,susah dimengerti juga,kayak kamu.”
            “Aku emang susah dimengerti,wi. Jadi kamu cari aja laki-laki lain di kampus,banyak kan disana? Pasti lebih sholeh,lebih baik juga dibanding aku.”
            “Apaan sih.. bercanda juga.”
            “Aku serius,aku udah berfikir ‘bagaimana jika…. ‘ (berandai-andai suatu kemungkinan) Jadi sekarang lebih baik kamu cari yang lain,bosen kali suka sama aku terus. Kita temenan aja sekarang.”
            “Bukannya dari dulu kita temenan kan? Cuma aku nya aja terlalu bawa perasaan ke kamu.aku yang salah,maaf.”
            “Enggak,kamu gak salah. Aku yang salah,aku terlalu berlebihan. Aku yang gak enak sekarang.”
            “Gak enak gimana,Ki?”
            “Aku merasa gak bebas.”
            “Ya udah,kamu boleh kok cari perempuan lain. Aku gak larang,yang banyak carinya.”
            “Iya,mau cari yang banyak. siapa tahu aja ada yang jodoh.”
            “Iya silahkan. Udah kembali ke topik,film apa aja yang rame?”

            Sungguh,aku tak bisa menguraikan perasaanku pada saat itu,kekecewaan yang ku takutkan itu hadir,memang awalnya aku telah berjanji agar bisa tegar apapun pernyataannya. Tapi entahlah,rasa kekecewaan yang lebih aku rasakan saat ini.

***

            Air hujan terus menerus turun dan tak kunjung henti di Langit Kota Bandung,untungnya pada saat ini,aku telah duduk di sebuah angkutan umum,setidaknya aku bisa terjaga dari air hujan yang akan membasahi bajuku. Aku tak ingin masuk angin saat aku tiba di rumah nanti. Tanganku merogoh ke dalam tas,lalu mengambil sebuah benda yang mungkin dengan alat ini,aku dapat terhibur dari kepenatan tugas-tugas dan materi yang diberikan oleh dosen. Headshet itu pun ku pasang di kedua telinga,punggungku bersandar pada kursi,ku harap kursi tersebut nantinya bisa menopangku saat aku tertidur. Ku putar sebuah lagu secara acak,setelah sebelumnya aku mendengarkan lagu Ruang Rindu yang dilantunkan oleh grup band Letto,sebuah lagu yang mengingatkanku pada kenangan yang telah lalu pun terputar dengan sendirinya.
            Dengarkanlah,wanita pujaanku. Malam ini akan ku sampaikan,janji suci kepadamu Dewiku,dengarkanlah kesungguhan ini. Aku ingin mempersuntingmu,tuk yang pertama,dan terakhir.

            Ku hayati semua lirik lagu tersebut,sebari mengingat semua kenangan yang pernah ku lalui bersama dengannya. Sekali waktu,aku melihat keluar jendela dari angkutan umum ini,ku melihat langit biru tersebut,langit itu sangatlah indah,ia seakan menjadi perantara rasa rinduku padanya yang kini jauh disana,yang kini sedang mengerjakan semua tugasnya untuk meraih semua cita-citanya. Aku harus tetap mendukungnya,walaupun kini aku dan dia punya jalan yang berbeda,dan sudah mempunyai status yang pasti sebagai ‘Temannya’. Aku haruslah tetap menyemangati nya dalam diam,dan menunggunya seperti saat di SMA dulu,aku berharap kejadian yang dahulu terjadi dapat terulang kembali,dan ku harap ia dapat kembali lagi padaku.
            Entahlah,sudah beberapa bulan aku lewati tanpa kabar darinya,tapi hingga kini aku tak kunjung dapat berlari dari kisah cintanya. Huftt…Aku tak boleh terlalu larut dalam nostalgianya, Aku pun memalingkan wajah keluar jendela sebari menatap langit, dan beberapa pertanyaan muncul dalam benakku. Sebari menikmati keramaian kota Bandung,aku berkata secara perlahan ke arah luar jendela ”Zaki Arifin,Mahasiswa Teknik Informatika,seorang laki-laki yang dulu pernah hadir dalam hidupku,Apakah kamu merindukanku disana seperti aku yang kini merindukanmu? Apakah hanya aku sendiri yang kini hanya akan menunggumu? Aku harap kamu bisa kembali lagi. aku selalu rindu kamu,Zak.”
            Mataku berkaca-kaca mengucapkannya,jujur aku mengungkapkannya dari hatiku. Miris memang,tapi apalah daya,kini aku hanya bisa mendo’akannya dari jauh. ku harap Sang Khalik dapat mempertemukan aku dengannya di kemudian hari dengan Skenario-Nya yang sangat indah dan tak terduga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar