LANGIT,SAMPAIKAN RINDUKU
Kesepian
itulah yang kurasakan kini saat ia berada jauh dariku. Inginku memintanya untuk
pindah saja dari tempat kuliahnya kini,tapi aku fikir aku terlalu egois apabila
aku memintanya untuk melakukan hal tersebut. Aku juga tak punya hak untuk
memerintahnya seperti itu. Berbagai macam kegalauan tentangnya telah
kuceritakan kepada sahabat-sahabatku,kuharap mereka tak bosan mendengar
ceritaku itu.
"Lagi lagi dia hilang. bagus! udah move on kali ya?" ucapku geram
"sibuk mungkin,wi." balas temanku yang berwajah selalu tenang,mungkin apabila badai dan gempa datang secara bersaman,wajahnya akan selalu nampak tenang.
"Mungkin" ucapku dengan penekanan
Iyap,Hubunganku
dengannya mungkin tak sejelas hubungan yang dimiliki orang lain,statusku
dengannya masih bisa dibilang gantung,karena pada dahulu saat ia akan
‘menembak’,aku menolaknya terlebih dahulu dikarenakan pada saat itu aku belum
siap untuk menjalin komitmen,memang tak bisa dipugkiri pada saat itu akulah
yang menyukainya lebih awal,bisa dibilang aku adalah penggemar sejatinya. Dua
tahun aku mengejar cintanya,yang tak kunjung ia balas. Tetapi setelah penantian
selama dua tahun itu,akhirnya dialah yang berbalik mengejar cintaku,aneh
memang,cintaku terbalas saat aku ingin berpindah ke lain hati. Apakah mungkin
dia juga sudah lama menyimpan perasaan padaku? Hanya dia dan Tuhan lah yang
tahu. Aku benar-benar seperti diatas angin pada saat itu,Zaki yang notabene
adalah orang yang berada dalam penantianku
bisa berbalik,dan melangkah kepada seorang Dewi yang sudah lama
mengejarnya.
Beribu
perhatian ia berikan padaku,mulai saat itu,dari memberiku hadiah saat aku
berulang tahun,memberi nasihat dan solusi pada setiap masalahku,memberi
perhatian saat aku sakit,dan yang paling menggugah perasaanku ialah saat aku
akan terlelap tidur,ia mengirimiku voice note suara gitar lagu Janji Suci yang
dilantunkan oleh band Yovie n Nuno. Senyum bahagia terukir di wajahku,tanganku
secara otomatis menutup mulut yang tak sanggup menahan kebahagian di malam hari
itu,mataku berkaca-kaca pertanda aku bahagia bisa bersamanya kini. Mulai dari
sanalah aku yakin bahwa ia benar-benar mencintaiku.
Jika
memutar kembali semua kejadian yang ku alami,aku jadi ingin kembali pada masa itu. Tapi aku tak mau suatu kejadian yang
kualami sesudah kebahagiaan-kebahagiaan itu hadir pun ikut muncul kembali.
“Kamu
lulus ya? Akhirnya jadi mahasiswa.” Ketikku di facebook messenger,kemudian aku
kirim pesan tersebut. Besar harapan agar ia dapat segera membalas,apapun itu
jawabannya.
Tak lama,ia pun akhirnya membalas
pesanku
“Aku
lulus di salah satu perguruan tinggi negeri,wi.”
“Wah,selamat
ya. Jurusan apa ki?”
“Teknik
Informatika.”
“Itu
kan keinginan kamu ya? Belajar yang bener,jangan niatnya cuma cari cewek cantik
doang.”
“Siap
bu guru,jangan bawel ah.”
Bahagia
sekaligus sedih bercampur dalam hidupku saat ini,bahagia karena orang yang
kucintai itu dapat menjadi mahasiswa menyusul diriku yang terlebih dahulu sudah
lulus pada program studi keguruan di salah satu perguruan tinggi negeri yang
berbeda dengannya. Sedih, sedih karena jarak itu akan memisahkan kita berdua.
***
Waktu
demi waktu berlalu,air hujan terus menetes dan tak kunjung henti di langit
Bandung ini,hembusan angin yang begitu kencang belum bisa menggoyahkanku untuk
tidak berangkat kuliah,kakiku tetap melangkah menembus air hujan yang kini
bertambah besar,sudah biasa bagiku saat akan berangkat kuliah diiringi oleh air
hujan yang sangat rutin turun dari langit biru nan indah ini. Tiba saat aku di
tempat kuliah,bajuku sudah basah kuyup dibanjiri oleh air hujan yang sedari
tadi tak kunjung henti. Aku pun berdiri di luar ruang kuliah, berniat untuk
mengeringkan bajuku yang memang tak akan kering seperti semula,walaupun begitu setidaknya
tampilanku masih pantas terlihat oleh dosen sebagai mahasiswi yang rapi.
Hembusan
angin terus bertiup,menyapa semua mahasiswa yang berlarian kesana kemari
mencari tempat berteduh,ia pun ikut menyapa diriku,kedua tanganku pun aku
gosokkan untuk meringankan rasa dingin yang kini hadir. Saat menikmati suasana
pagi hari di Kota Bandung,aku teringat pada sosok Zaki yang kini sedang berada
jauh dariku,beribu pertanyaan muncul dalam benakku, apa yang sedang ia lakukan?
Seberapa banyak tugas yang ia kerjakan hingga ia terkadang bersikap acuh padaku?
Dan Apakah dia sudah menemukan perempuan yang lebih dariku? Sehingga ia berubah
sikap padaku?
Terbesit
keinginan untuk men-chatnya,tetapi rasa gengsiku masih tinggi dibanding rasa
rinduku padanya,aku hanya bisa berharap agar ia yang terlebih dahulu
men-chatku. Sungguh,rasa cinta yang masih bersemayam dalam hatiku membuatku
kaku pada cinta-cinta yang akan hadir,aku cenderung menjauh dan menjaga jarak
pada kaum Adam,karena kufikir hatiku telah dirantai olehnya. Sehingga aku tidak
bisa berpaling ke lain hati.
Zaki
Arifin mengomentari status anda
Beribu kebahagiaan muncul saat aku
melihat pemberitahuan tersebut,dengan segera ku buka pemberitahuanku itu.
“Friendship,peemak,first
love.itu film Thailand yang rame, cari aja. cari website khusus download yang
ada subtitle nya langsung. Nanti sama aku inbox websitenya lah.”
Begitulah
komentarnya,senang memang. Tapi mulai dari sanalah sikap curiga ku muncul,dia
tak pernah mengomentari statusku apapun itu, termasuk status yang menyindirnya
pun,ia tak pernah berkomentar apabila status itu ditulis olehku. Dahulu ia
beralasan bahwa apabila ia berkomentar di statusku,keesokan harinya pasti akan
ada berita tentang kami berdua yang membuat
dua kelas heboh,dan darisanalah aku dan ia sama-sama tak bisa mengelak berita
tersebut nantinya,yang pastinya dalam posisi tersebut kami berdua akan bersikap
salah tingkah. Posisi yang sangat skak mat bukan? Dan Apakah ia sekarang
sudah tak memiliki perasaan padaku? Sehingga ia sekarang berani berkomentar di
statusku? Kuharap bukan itu alasannya,tapi apapun itu,aku harus siap menerima
segala alasannya dan pernyataan perasaannya apabila aku bertanya nantinya.
Aku
pun berniat untuk mencari cara agar bisa
mengetahui perasaannya kini,aku pun men-chat nya lewat facebook.
“Ada
lagi film Thailand yang rame gak? Aku udah download di youtube,tapi gak ketemu
terus yang kamu rekomendasiin itu.”
“ada
di website film Thailand yang bersubtitle indo,khusus websitenya,searching aja wi.”
“Susah
ih nyarinya juga,susah dimengerti juga,kayak kamu.”
“Aku
emang susah dimengerti,wi. Jadi kamu cari aja laki-laki lain di kampus,banyak
kan disana? Pasti lebih sholeh,lebih baik juga dibanding aku.”
“Apaan
sih.. bercanda juga.”
“Aku
serius,aku udah berfikir ‘bagaimana jika…. ‘ (berandai-andai suatu kemungkinan)
Jadi sekarang lebih baik kamu cari yang lain,bosen kali suka sama aku terus.
Kita temenan aja sekarang.”
“Bukannya
dari dulu kita temenan kan? Cuma aku nya aja terlalu bawa perasaan ke kamu.aku
yang salah,maaf.”
“Enggak,kamu
gak salah. Aku yang salah,aku terlalu berlebihan. Aku yang gak enak sekarang.”
“Gak
enak gimana,Ki?”
“Aku
merasa gak bebas.”
“Ya
udah,kamu boleh kok cari perempuan lain. Aku gak larang,yang banyak carinya.”
“Iya,mau
cari yang banyak. siapa tahu aja ada yang jodoh.”
“Iya
silahkan. Udah kembali ke topik,film apa aja yang rame?”
Sungguh,aku
tak bisa menguraikan perasaanku pada saat itu,kekecewaan yang ku takutkan itu
hadir,memang awalnya aku telah berjanji agar bisa tegar apapun pernyataannya.
Tapi entahlah,rasa kekecewaan yang lebih aku rasakan saat ini.
***
Air
hujan terus menerus turun dan tak kunjung henti di Langit Kota
Bandung,untungnya pada saat ini,aku telah duduk di sebuah angkutan
umum,setidaknya aku bisa terjaga dari air hujan yang akan membasahi bajuku. Aku
tak ingin masuk angin saat aku tiba di rumah nanti. Tanganku merogoh ke dalam
tas,lalu mengambil sebuah benda yang mungkin dengan alat ini,aku dapat terhibur
dari kepenatan tugas-tugas dan materi yang diberikan oleh dosen. Headshet itu
pun ku pasang di kedua telinga,punggungku bersandar pada kursi,ku harap kursi
tersebut nantinya bisa menopangku saat aku tertidur. Ku putar sebuah lagu
secara acak,setelah sebelumnya aku mendengarkan lagu Ruang Rindu yang
dilantunkan oleh grup band Letto,sebuah lagu yang mengingatkanku pada kenangan
yang telah lalu pun terputar dengan sendirinya.
Dengarkanlah,wanita
pujaanku. Malam ini akan ku sampaikan,janji suci kepadamu Dewiku,dengarkanlah
kesungguhan ini. Aku ingin mempersuntingmu,tuk yang pertama,dan terakhir.
Ku
hayati semua lirik lagu tersebut,sebari mengingat semua kenangan yang pernah ku
lalui bersama dengannya. Sekali waktu,aku melihat keluar jendela dari angkutan
umum ini,ku melihat langit biru tersebut,langit itu sangatlah indah,ia seakan
menjadi perantara rasa rinduku padanya yang kini jauh disana,yang kini sedang
mengerjakan semua tugasnya untuk meraih semua cita-citanya. Aku harus tetap
mendukungnya,walaupun kini aku dan dia punya jalan yang berbeda,dan sudah
mempunyai status yang pasti sebagai ‘Temannya’. Aku haruslah tetap menyemangati
nya dalam diam,dan menunggunya seperti saat di SMA dulu,aku berharap kejadian
yang dahulu terjadi dapat terulang kembali,dan ku harap ia dapat kembali lagi
padaku.
Entahlah,sudah
beberapa bulan aku lewati tanpa kabar darinya,tapi hingga kini aku tak kunjung
dapat berlari dari kisah cintanya. Huftt…Aku tak boleh terlalu larut dalam
nostalgianya, Aku pun memalingkan wajah keluar jendela sebari menatap langit, dan
beberapa pertanyaan muncul dalam benakku. Sebari menikmati keramaian kota
Bandung,aku berkata secara perlahan ke arah luar jendela ”Zaki Arifin,Mahasiswa
Teknik Informatika,seorang laki-laki yang dulu pernah hadir dalam hidupku,Apakah
kamu merindukanku disana seperti aku yang kini merindukanmu? Apakah hanya aku
sendiri yang kini hanya akan menunggumu? Aku harap kamu bisa kembali lagi. aku
selalu rindu kamu,Zak.”
Mataku
berkaca-kaca mengucapkannya,jujur aku mengungkapkannya dari hatiku. Miris
memang,tapi apalah daya,kini aku hanya bisa mendo’akannya dari jauh. ku harap
Sang Khalik dapat mempertemukan aku dengannya di kemudian hari dengan
Skenario-Nya yang sangat indah dan tak terduga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar